Masuk

Ingat Saya

Pluralisme dan Kemakmuran di Desa Mopuya

DSC_0725.

Lantunan azan menggema, lonceng gereja berbunyi dan sesekali bau dupa dari halaman pura tercium. Desa Mopuya Selatan, Kecamatan Dumoga Utara, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), Sulawesi Utara menjadi contoh indahnya kerukunan di tengah perbedaan. Mesjid, gereja dan pura berdiri berdampingan.

Tak memandang suku dan agama, mereka hidup seperti saudara. Desa di pedalaman Sulawesi Utara ini juga menjadi lumbung beras. Masyarakat hidup makmur dari hasil pertanian yang ada. Surga kecil di Indonesia ada di sini desa ini.

Bolmong memang merupakan daerah transmigrasi pada zaman Orde Baru. Warga dengan suku berbeda rela pindah berkilo-kilo meter dari tempat asal untuk mengadu nasib di daerah yang telah disediakan pemerintah ini. Warga Minahasa yang memeluk Kristen, Jawa yang memeluk islam dan Bali yang memeluk Hindu.

Desa yang memiliki luas kurang lebih 32.11 kilometer persegi ini pernah menjadi proyek percontohan atau model toleransi dan pluralism agama bagi masyarakat internasional. Bahkan Menteri Agama Tarmizi Taher dan Gubernur Sulut EE Mangindaan pernah diundang pemerintah Amerika Serikat untuk presentasi mengenai kehidupan keberagaman di Indonesia, khususnya komunitas Mopuya.

Dari catatan Humas Pemkab Bolaang Mongondow, Selasa 14 Juni 2011 lalu menyebut, penelusuran yang dilakukan pada berbagai sumber di Dumoga Bersatu yang terdiri dari Dumoga Timur, Dumoga Barat, dan Dumoga Utara, terungkap sejarah berdirinya enam rumah ibadah di desa ini.

Pada suatu ketika di bulan September 1972, sekitar 100 Kepala Keluarga (KK ) dari Bojonegoro dan Banyuwangi di Jawa Timur berangkat menuju Pelabuhan Inobonto, Bolmong dengan kapal laut. Mereka adalah para transmigran yang akan ditempatkan di Desa Mopuya Selatan, Kecamatan Dumoga Utara.

Daerah baru ini masih hutan belantara, namun pemerintah telah menyiapkan rumah-rumah dengan tipe rumah sangat sederhana untuk mereka. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, mereka bercocok tanam jagung dan kedelai. Setelah hampir dua tahun berada di sana, mereka mulai berpikir untuk memiliki rumah ibadah.

Awalnya, mereka menggunakan gudang logistik tempat penyimpanan sembako milik Kanwil Transmigrasi. Mereka bergotong-royong membersihkan gudang itu, baik muslim maupun nasrani. Di hari Jumat, tempat ini digunakan untuk salat Jumat dan di hari Minggu untuk kebaktian atau ibadah.

Selain orang Jawa, di Mopuya juga terdapat orang Bali. Warga Bali ini mulai banyak ke luar daerahnya setelah meletusnya Gunung Agung pada tahun 1963. Di Dumoga, mereka tersebar di beberapa desa, termasuk Mopuya. Kala itu, jumlah transmigran 1.549 jiwa atau 349 KK dan ditempatkan di Desa Werdhi Agung. Para transmigran berikutnya ditempatkan di Desa Kembang Mertha (1964), Mopuya (1972/1975), Mopugad (1973/1975), Tumokang (1971/1972), Sangkub (1981/1982), Onggunoi (1983/1984), Torosik (1983/1984), dan Pusian/Serasi (1992/1993).

Seiring perjalanan waktu, lalu muncul ide dari Kanwil Transmigrasi untuk membangun rumah ibadah untuk semua agama yang ada. Dan pada tahun 1973, mulailah dibangun tempat-tempat ibadah tersebut. Masing-masing agama mendapat 2.500 meter persegi. Untuk umat Islam ditambah 2.500 meter persegi lagi untuk membangun madrasah.

Jadilah enam rumah ibadah yakni Masjid Jami’ Al-Muhajirin, GMIBM (Gereja Masehi Injili Bolaang Mongondow) anggota PGI Jemaat Immanuel Mopuya, Pura Puseh Umat Hindu, Gereja KGPM Sidang Kalvari Mopuya, Gereja Katolik Santo Yusuf Mopuya, dan Gereja Pantekosta.

Kerukunan antar umat sangat terlihat saat perayaan hari besar keagamaan. Nuzulul Quran, Galungan, dan Paskah pernah dirayakan bersama-sama. Setelah umat Hindu melakukan upacara Ngembak Geni setelah hari raya Nyepi, mereka melakukan Sima Karma, saling mengunjungi untuk bermaaf-maafan. Perkawinan campur pun beberapa kali terjadi.

Mopuya pun melejit menjadi lambang kemakmuran petani, itu bisa dilihat dari patung petani yang berada tepat di tengah-tengah desa. Desa ini menjadi lumbung beras. Hasil panen dari desa-desa sekitarnya singgah sebelum diangkut ke kota. Meski hanya kampung, Mopuya berperan seperti kota kecil, lengkap dengan pasar dan kantor kecamatan.

Namun, Mopuya bukan tak menyimpan bara persoalan. Terjepit di tengah-tengah wilayah penambangan emas liar di pebukitan Dumoga, kerap kali desa itu menjadi tempat bertarung para penambang. Warga Mopuya memang harus pandai-pandai merawat keberagaman agar gesekan seperti persoalan rebutan lahan tambang tak berdampak buruk.

Simbol pluralis nan unik yang terletak di Mopuya Selatan ini terus dipertahankan dan dilestarikan sebagai obyek wisata religius. Semua pihak mulai dari anak-anak hingga orang dewasa telah diajarkan untuk hidup damai tanpa memandang perbedaan. Tak terkecuali para pemuda di desa ini yang menjadi pionir kerukunan yang terus terpelihara hingga kini.

#DamaiDalamSumpahPemuda

finew
Dengan